BALIKPAPAN – Sejumlah perupa Balikpapan bersama akademisi dari Institut Teknologi Kalimantan menghadiri pertemuan dengan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kaltimtara beserta jajaran Kabagsub dan pejabat terkait, Jumat (13/2/2026). Pertemuan ini membahas langkah konkret pemajuan kebudayaan, khususnya di bidang seni rupa.

Dalam forum tersebut, Kepala BPK menawarkan dukungan fasilitas berupa ruang kosong di kantor BPK yang dapat dimanfaatkan sebagai ruang display karya seni rupa. Selain itu, para peserta mendiskusikan strategi pemanfaatan ruang agar mampu memperkuat ekosistem seni rupa lokal secara berkelanjutan.

Ruang sebagai Titik Awal Ekosistem

Peserta menilai ruang tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat memajang karya. Sebaliknya, mereka ingin menjadikannya sebagai titik temu komunitas, ruang diskusi, hingga pusat dokumentasi seni rupa Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Diskusi juga menyoroti pentingnya pendataan perupa, kolaborasi lintas sektor, serta penyelenggaraan aktivitas rutin agar ruang tetap hidup dan dinamis.

Tanggapan Komunitas Perupa

Bang Panca dari komunitas perupa Balikpapan menyambut positif dukungan fasilitas tersebut.

“Kami tentu menyambutnya dengan sangat positif. Dukungan ruang dari BPK adalah langkah konkret yang menunjukkan keberpihakan pada penguatan seni rupa sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa ruang bukan sekadar tempat memajang karya, melainkan simbol pengakuan atas posisi penting seni rupa dalam lanskap kebudayaan daerah. Menurutnya, langkah ini membuka peluang kolaborasi sehat antara institusi dan komunitas.

Tantangan Perupa di Balikpapan

Bang Panca mengakui perupa di Balikpapan selama ini menghadapi keterbatasan ruang presentasi karya yang konsisten dan berkelanjutan. Banyak seniman berkarya secara individual tanpa ruang temu yang terstruktur.

Selain itu, ia menyoroti pentingnya dokumentasi dan pendataan perupa. Arsip yang tertata, menurutnya, akan membantu memetakan perkembangan serta potensi seni rupa di wilayah tersebut. Ia juga menekankan perlunya membangun ekosistem yang mencakup produksi karya, diskusi, kurasi, edukasi, dan jejaring.

Agar Ruang Tetap “Hidup”

Menurut Bang Panca, ruang akan hidup jika komunitas mengisi dengan aktivitas rutin. Display karya menjadi langkah awal, tetapi diskusi, presentasi karya, hingga bedah karya perlu dilakukan secara berkala.

Ia juga mendorong kurasi yang jelas serta pergantian karya secara terjadwal. Dokumentasi melalui e-katalog, tambahnya, akan membuat ruang bersifat dinamis dan tidak sekadar menjadi pajangan statis.

Komunitas perupa juga mendorong sistem kuratorial kolektif yang tetap terarah. Mereka ingin membangun proses seleksi yang komunikatif, dengan tema kebudayaan sebagai payung besar agar karya tetap relevan dengan mandat BPK.

Kolaborasi dengan Akademisi

Dalam kesempatan yang sama, Bang Panca menekankan pentingnya kolaborasi dengan akademisi. Menurutnya, sinergi tersebut akan memperkuat dimensi reflektif dan konseptual dalam praktik seni.

Kolaborasi antara perupa, institusi kebudayaan, dan akademisi diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang utuh: ada produksi karya, kajian, arsip, serta regenerasi. Dengan demikian, ruang yang disediakan tidak hanya menjadi tempat display, tetapi juga bagian dari proses kebudayaan yang berkelanjutan.(Far))

Tentang Netizen Borneo

📍 NETIZEN BORNEO — Suara Warga Kalimantan, Mata Hati Borneo

🌐 Website: www.netizenborneonews.com

📱 Instagram: @netizen_neo

🧵 Threads: @netizen_neo

🎥 TikTok: @netizen__neo

📘 Facebook: Netizen Borneo

📩 Email: netizen.neo@hotmail.com

💬 WhatsApp: 0896-4642-1855