SAMBOJA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, Sabtu (22/8/2026). Petugas pemadam kebakaran menangani enam titik berbeda dalam sehari, salah satunya di kawasan Tol Balikpapan-Samarinda Kilometer (Km) 31 dengan api yang sempat mendekati pagar jalan tol.

Kepala Pos (Kapos) Samboja Pesisir Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar, Saharudin, mengatakan enam titik kebakaran tersebut tersebar di Kelurahan Sungai Merdeka, Kelurahan Wonotirto, Kelurahan Kuala Samboja, Desa Karya Jaya, Sanipah, dan Kelurahan Muara Sembilan.

“Untuk wilayah hari ini, kebakaran terjadi di beberapa titik di Samboja, tepatnya di kelurahan yang berbeda-beda. Ada enam titik kebakaran,” kata Saharudin saat dikonfirmasi Sabtu menjelang dini hari.

Seluruh kejadian tersebut merupakan kebakaran lahan. Petugas mulai melakukan penanganan sekitar pukul 13.00 Wita dan baru menyelesaikan seluruh penanganan sekitar pukul 23.00 Wita.

“Jadi, hampir pergantian hari baru kami kembali ke kantor,” ujarnya.

Luas Lahan Terbakar Capai 20 Hektare

Dari enam titik tersebut, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 20 hektare. Saharudin merinci, sekitar 3 hektare lahan terbakar di kawasan Tol Km 31, 10 hektare di Kelurahan Wonotirto, 5 hektare di Kuala Samboja, 2 hektare di Muara Sembilan, 1 hektare di Karya Jaya, dan sekitar 2 hektare di Sanipah.

“Kurang lebih totalnya 20 hektare dari enam titik tersebut,” katanya.

Namun, angka tersebut masih merupakan pendataan awal karena laporan setiap kejadian dibuat secara terpisah. Jika digabungkan dengan kejadian kebakaran sebelumnya, Saharudin memperkirakan luas lahan yang terbakar di wilayah Samboja telah mencapai lebih dari 40 hektare. Bahkan, total luasan lahan terbakar diperkirakan dapat mencapai 50 hingga 60 hektare.

Api di Kawasan Tol Sempat Mendekati Pagar

Kebakaran di kawasan Tol Km 31 menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian petugas. Saharudin mengatakan titik api berada sekitar 200 hingga 300 meter dari badan jalan tol, di sisi arah Samarinda menuju Balikpapan. Api bahkan sempat mendekati pagar pembatas jalan tol.

“Memang cukup dekat karena api sudah menghampiri pagar tol,” kata Saharudin.

Kendaraan pemadam tidak dapat masuk hingga ke titik api karena lokasi kebakaran cukup jauh dari akses kendaraan. Petugas akhirnya menempatkan kendaraan di sekitar jalan tol dan menarik selang menuju titik api. Untuk menjangkau lokasi tersebut, petugas menggunakan sekitar 10 sambungan selang dengan panjang masing-masing 20 meter. Total selang yang digunakan mencapai sekitar 200 meter.

“Karena lokasinya cukup jauh dari akses kendaraan, selang harus ditarik dari jalan tol menuju titik kebakaran,” ujarnya.

Meskipun demikian, kebakaran di Km 31 tidak sampai menghentikan lalu lintas kendaraan di jalan tol. Namun, Saharudin mengatakan asap dari kebakaran lahan, terutama yang berada di kawasan gambut, dapat masuk ke badan jalan dan mengganggu jarak pandang pengendara.

“Pengendara harus pelan-pelan di tol karena asap masuk ke jalan tol. Jarak pandangnya dekat sekali,” katanya.

Lahan Gambut Sulit Dipadamkan, Damkar Terkendala Alat Khusus

Penanganan karhutla kali ini menjadi lebih sulit karena sejumlah lokasi berada di kawasan gambut. Saharudin menyebut kawasan Tol Km 31, Muara Sembilan, dan sebagian besar wilayah Kuala Samboja merupakan lahan gambut.

“Memang menjadi kerja keras bagi petugas karena kondisi gambut cukup sulit ditangani,” ujarnya.

Menurut dia, api pada lahan gambut dapat membakar bagian dalam tanah sehingga titik api tidak selalu terlihat dari permukaan.

“Memang lahan gambut cukup sulit dipadamkan karena api bisa membakar bagian dalam tanah,” katanya.

Di Kelurahan Wonotirto, misalnya, gambut yang terbakar cukup tebal. Petugas harus memastikan asap benar-benar hilang sebelum meninggalkan lokasi.

“Di Damkar, prinsipnya kami bekerja sampai asapnya hilang. Setelah asap sudah tidak ada, baru kami bergeser,” ujarnya.

Untuk menangani kebakaran gambut secara maksimal, petugas sebenarnya membutuhkan peralatan khusus seperti nozel yang dapat ditanam ke dalam tanah. Namun, Damkar Samboja belum memiliki peralatan tersebut.

“Kami tidak memiliki alat khusus untuk penanganan lahan gambut. Biasanya lahan gambut membutuhkan alat khusus, seperti nozel yang bisa ditanam ke dalam tanah,” kata Saharudin.

Saat ini, pemadaman masih dilakukan dengan menyiram permukaan lahan.

Petugas Damkar Samboja Mengumandangkan Azan di Tengah Pemadaman

Di tengah upaya memadamkan kebakaran, petugas Damkar Samboja juga melakukan ikhtiar lain di lokasi. Saharudin mengatakan sejumlah anggota Damkar Samboja mengumandangkan azan sembari melakukan pemadaman.

“Kami juga anggota dari Damkar Samboja, melakukan azan sembari memadamkan api,” kata Saharudin.

Hal tersebut dilakukan bersamaan dengan upaya teknis pemadaman yang terus dilakukan petugas di lapangan. Petugas tetap mengandalkan unit pemadam, selang, mesin portable, serta pasokan air untuk mengendalikan api. Terlebih, sejumlah titik kebakaran berada di lahan gambut yang membutuhkan penanganan lebih lama.

Diduga Akibat Pembukaan Lahan Secara Sengaja

Saharudin menyebut sebagian kebakaran diduga dipicu aktivitas pembukaan lahan.

“Kalau penyebabnya, sebagian memang karena musim kemarau dan sebagian lagi ada yang sengaja dibakar untuk membuka lahan,” ujarnya.

Dugaan tersebut ditemukan di kawasan Tol Km 31. Petugas di lapangan menemukan bagian lahan yang terbakar cukup dalam. Mereka juga melihat bekas lahan yang diduga sebelumnya telah disemprot menggunakan bahan kimia.

“Anak-anak di lapangan menemukan bagian yang sudah masuk cukup dalam dan terlihat ada bekas lahan yang sebelumnya disemprot menggunakan racun. Jadi, memang ada indikasi pembukaan lahan,” katanya.

Meski demikian, penyebab masing-masing kebakaran masih dalam pengamatan petugas.

Kendala Pasokan Air Akibat Kemarau

Saharudin mengatakan sejumlah sumber air di Samboja mulai surut akibat musim kemarau.

“Untuk kondisi sumber air saat ini memang menjadi kendala. Rata-rata air di wilayah sini sudah mulai surut,” katanya.

Kondisi tersebut semakin menjadi persoalan karena Samboja merupakan wilayah pesisir. Air di sejumlah sumber mulai terasa asin sehingga tidak dapat digunakan untuk pemadaman.

“Kami tidak pernah menggunakan air asin,” ujarnya.

Sebelumnya, petugas kerap mengambil air dari PDAM. Namun, salah satu sumber air PDAM di wilayah tersebut kini telah mengering. Petugas kemudian memanfaatkan sumber air lain yang debitnya juga mulai menurun.

“Airnya sudah kelihatan bagian bawahnya karena debitnya turun,” katanya.

Di Kelurahan Wonotirto, unit pemadam bahkan tidak dapat masuk ke lokasi sehingga petugas menggunakan mesin portable atau mesin jinjing. Sementara di kawasan tol, pasokan air dibantu oleh pihak Jasa Marga. Di lokasi lainnya, petugas mendapat pasokan air dari tandon.

Empat Unit dan Puluhan Personel Dikerahkan

Sebanyak empat unit kendaraan dikerahkan untuk menangani enam titik kebakaran tersebut. Penanganan juga dibantu Manggala Agni, TNI, Polri, PMI, KKP, dan Jasa Marga. Saharudin mengatakan personel harus bekerja sejak siang hingga malam untuk memastikan kebakaran dapat dikendalikan.

“Kalau kondisi personel dan unit, memang sudah bekerja keras. Jangankan unitnya, manusianya saja sudah bekerja keras,” ujarnya.

Pos Samboja memiliki 16 personel. Dalam satu kali piket selama 24 jam, lima orang bertugas. Namun, ketika terjadi kebakaran besar, personel yang sedang libur ikut dikerahkan agar tidak terjadi kekosongan petugas di lapangan. Satu unit kendaraan juga tetap harus disiagakan di kantor untuk mengantisipasi kebakaran di kawasan permukiman.

“Kalau lima orang berangkat semua, otomatis kantor kosong. Jadi, kami dibantu rekan-rekan yang libur,” kata Saharudin.

Menurut dia, kondisi tersebut sudah berlangsung sejak Juli hingga Agustus 2026.

“Selama mulai bulan tujuh sampai Agustus ini kami belum ada istirahat. Belum ada istirahat sekali,” ujarnya.

Meski kelelahan, Saharudin memastikan kondisi personel masih sehat.

“Kalau masalah capek, pasti capek. Kalau sesak napas, alhamdulillah sejauh ini tidak ada. Mudah-mudahan sampai selesai dan ada hujan, kami masih bisa bernapas seperti ini,” katanya.

Berharap Hujan Segera Turun

Saharudin berharap hujan segera turun untuk mengurangi risiko kebakaran lahan yang kembali terjadi di Samboja. Ia juga mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar, terutama ketika kondisi cuaca masih panas dan kering.

“Kami berharap mudah-mudahan cepat hujan. Untuk masyarakat, jangan membakar hal-hal yang menyebabkan kebakaran lahan. Jaga selalu,” tuturnya.(Sab)


📍 NETIZEN BORNEO — Suara Warga Kalimantan, Mata Hati Borneo
🌐 Website: www.netizenborneonews.com
📱 Instagram & Threads: netizen_neo
🎥 TikTok: netizen__neo
📩 Email Redaksi: netizen.neo@gmail.com
💬 WhatsApp Redaksi: 0821-3555-5475